KEUTAMAAN 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Bulan dzulhijjah hanya datang 1 kali dalam setahun, maka dari itu jangan sampai di biarkan begitu saja berlalu tanpa di isi dengan amalan-amalan sunnah agar bisa mendapatkan keutamaan dan pahala untuk bekal di hari nanti.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari No. 969).

AMALAN yang Disyariatkan…

  1. Melaksanakan Ibadah HAJI dan UMROH.

 

Amal ini adalah yang paling utama, berdasarkan berbagai hadist shahih yang menunjukkan keutamaannya, diantaranya dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu. Beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

 

“Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).

 

  1. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya, terutama pada hari Arofah.

 

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih allah SWT. untuk diriNya. Disebutkan dalam “hadits qudsi” Allah SWT. berfirman :

فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِى

“Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya semata-mata karena Aku”. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَومًا فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ اليَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيفًا

 

”Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasa itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

 

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

 

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya. (HR. Muslim no. 1162)

 

  1. TAKBIR dan DZIKIR di hari-hari tersebut.

Sebagaimana firman Allah SWT. :

 

وَيَذْكُرُوا۟ اسْمَ اللهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومٰتٍ

 

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan” (Al-Hajj:28)

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari bulan dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu :

 

فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ التَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّكْبِيرَ.

“Maka dari itu, perbanyaklah membaca tahlil, tahmid, dan takbir pada hari-hari itu.” (HR. Ahmad).

 

  1. Bertaubat serta meninggalkan segala kemaksiatan dan dosa, sehingga akan memperoleh ampunan dan rahmad.

 

Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah SWT. dan ketaatan adalah penyebab dekat dan memperoleh cinta dan kasih Allah SWT.

 

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda :

 

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ المُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

 

“Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah iyu saat seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” (Hadits Muttafaqun ‘Alaihi).

 

  1. Banyak Beramal Sholih

 

Berupa ibadah sunnah seperti : Shalat, Sedekah, Jihad, membaca Al Qur’an, Amar ma’ruf nahi munkar, dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah SWT. daripada amal ibadah pada hari lainnya. Meskipun merupakan amal ibadah yang utama,bahkan sekalipun jihad yang merupakan ibadah yang amat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwa.

 

  1. Disyariatkan pada hari-hari itu Takbir mutlaq

 

Yaitu pada setiap saat,baik siang ataupun malam sampai Shalat Id. Dan disyariatkan pula takbir “muqayyad”, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjamaah. Bagi selain jamaah haji dimulai dari sejak Fajar hari Arofah, dan bagi jamaah haji dimulai dari sejak Dzuhur Hari Raya Kurban terus berlangsung hingga Shalat Ashar diakhir hari “Tasyriq”.

 

  1. Berkurban pada Hari Raya Kurban dan Hari-hari Tasyriq

 

Hal ini adalah Sunnah Nabi Ibrahim AS, yakni ketika Allah SWT. menebus putranya dengan sembelihan yang agung.

 

  1. Melaksanakan Shalat Idul Adha serta mendengarkan khutbahnya

 

Setiap muslim hendaknya memahamihikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan, maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan. Janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti nyanyian, judi, mabuk, dan sejenisnya. Yang akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukannya selama sepuluh hari.

 

  1. Selain hal-hal yang ditentukan di atas, hendaknya setiap dari muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir, dan bersyukur kepada Allah SWT. melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan, memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah SWT. agar mendapat RidhaNya.

 

Semoga Allah SWT. melimpahkan taufikNya dan menunjuki kita ke jalan yang lurus. Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad, Keluarga, dan para sahabatnya.

Sumber : Fadlu “Asyri Dzi al-Hijjah wa al-A’mal al-Waridah fiha, Syaik Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *