SYI’AH 9

Alhamdulillah , segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan anugerah dan nikmat kepada kita semua , yang telah memberikan hidayah inayah-Nya kepada kita sehingga sampai saat ini iman masih melekat dalam dada – dada kita sebagai pendorong kita mengerjakan ketaatan – ketaatan kepada-Nya , serta melengkapinya dengan  menyediakan hidayah dilalah irsyadiyah yang terhampar luas dalam Kitab-Nya dan Sunnah – sunnah Rasul-Nya untuk membimbing hamba-Nya meraih kebahagiaan di dua negeri sekaligus , dunia dan akherat.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita , teladan kita dalam beribadah dan beramal shalih , al Mushthafa , Rasulullah SAW beserta seluruh keluarganya , para sahabat – sahabatnya , para pengikut , pecinta serta pembela sunnah – sunnahnya sampai kelak Hari Kiamat.

Pembaca yang budiman , baru saja kita memasuki Tahun Baru Hijriyah 1439 dan disibukkan dengan amalan – amalan sunnah di awal bulan Muharram ini. Dan puncaknya kita mengenangHari Asyura , 10 Muharram 1439 H dengan berpuasa sunnah di hari tersebut seraya menambah sehari sebelum dan atau sesudahnya untuk menyelisihi kebiasaan orang – orang Yahudi Madinah. Hari Asyura , hari di mana kemenangan-kemenangan diperoleh para rasul terdahulu , di antaranya Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan para pengikutnya dari kejaran Firaun dan bala tentaranya bahkan akhirnya para musuh Allah itu ditenggelamkan di Laut Merah.

Tahun Baru Hijriyah juga mendorong kita untuk muhasabah diri , berubah ke arah yang lebih baik. Semangat Hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabat hijrah menyelamatkan aqidah tauhid dari negeri kufur yang dipenuhi kesyirikan , pemujaan roh dari tokoh – tokoh yang sudah meninggal , khurafat , perbudakan , penindasan manusia atas manusia dan kejahatan kemanusiaan yang begitu kompleks , menuju negeri harapan baru yang menyambut hangat dakwah tauhid , dakwah agama baru , Islam , ke kota Yatsrib ( Madinah ). Rasulullah SAW dan para sahabat tidak dimusuhi , diperangi dan diusir melainkan karena mendakwahkan tauhid agar beribadah kepada Allah SWT semata , menjauhkan ibadah kepada sekutu – sekutu peninggalan budaya nenek moyang.

Dengan semangat hijrah itu maka sudah selayaknyalah kita juga mengikuti jejak beliau berhijrah , hijrah amaliyah. Selayaknya kita tinggalkan amal – amal buruk kita , maksiyat kita dan keengganan kita bergegas memperbanyak amal serta meraih ampunan dan janji surga di tahun – tahun yang lalu dengan memenuhi detik demi detik waktu kita tahun ini dan tahun – tahun mendatang dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT dan amalan shalih. Insyaallah dengan jalan hijrah seperti ini , dan diperbaiki setiap tahunnya kita akan menjadi hamba Allah yang lebih baik dari waktu ke waktu yang berpeluang mengakhiri tugas kehambaan ini dengan khusnul khatimah dan juga berpeluang diselamatkan dari siksa api neraka. Amin.

Di Tahun Baru Hijriyah ini juga kita disuguhi berbagai fenomena kebangkitan komunisme yang merupakan bahaya yang tak kalah ngerinya dengan bahaya Syi’ah. Sama dengan Syi’ah , komunis juga telah terbukti anti Islam , menteror dan membantai umat Islam semenjak zaman kolonial 1926 , di masa kemerdekaan 1948 dan masa Orde Lama 1965 dengan slogan “ Pondok Bobrok , Langgar Bubar , Kyai Santri Mati.” Bercokolnya komunisme , teror dan pemberontakannya di Tanah Air merupakan trauma tersendiri bagi bangsa dan umat Islam.

Penyimpangan Aqidah Syi’ah

  1. Aqidah Syi’ah tentang Hari Asyura

Hari Asyura juga merupakan hari istimewa bagi kaum Syi’ah. Namun keistimewaannya jauh berbeda dengan kaum Muslimin. Setiap tahun , sepuluh hari pertama bulan Muharram orang – orang Syi’ah mengadakan upacara – upacara kesedihan dan ratapan ( berkabung ) untuk merawat dan membangkitkan dendam kepada kaum Nawashib ( kaum Muslimin Ahlus Sunnah ). Mereka melakukan demonstrasi di jalan – jalan di lapangan – lapangan umum dengan memakai pakaian serba hitam sebagai lambang kesedihan mereka. Hal ini mereka lakukan untuk mengenang gugurnya al Husain RA , cucu Rasulullah SAW , dengan meyakini kegiatan tersebut merupakan bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung kepada Allah SWT.

Dalam acara ini mereka mereka memukul – mukul pipi sendiri dengan tangan – tangan mereka , memukul – mukul dada dan punggung , merobek – robek saku baju , menangis dan berteriak – teriak histeris dengan menyebut – nyebut nama , “ Ya Husain ….. ya Husain ……. “. Terlebih lagi pada tanggal 10 Muharram , Hari Asyura , mereka melakukan ratapan di atas dengan kengerian yang lebih dari biasanya. Mereka memukuli diri sendiri dengan cemeti – cemeti berujung pisau kecil dan juga dengan pedang sebagaimana yang terjadi di negeri – negeri yang dikuasai Syi’ah seperti Iran dan Iraq yang bisa kita saksikan di media elektronik dan tersebar di jagad maya.[1]

Ratapan Jahiliyah semacam ini sangat dilarang di dalam Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut ,

قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ.

Nabi SAW bersabda : Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar – nampar pipi , merobek – robek saku baju dan meratap – ratap dengan ratapan Jahiliyah.( HR. Bukhari – Muslim ).

Menampar – nampar pipi , merobek – robek baju , meratapi musibah ala jahiliyah , hukumnya haram tidak boleh dilakukan berdasarkan hadits di atas. [2]

Bahkan para tokoh terkemuka Syi’ah masa kini selalu menganjurkan para pengikutnya melakukan perbuatan sadis dan biadab ini setiap tahun. Meskipun mereka tak berani melakukan untuk diri mereka sendiri. Kebiadaban seperti ini barang kali bagi bangsa lain dilihat sebagai tontonan dan lelucon belaka. Sama sekali tak layak disebut sebagai sebuah agama petunjuk umat manusia.

Salah satu tokoh Syi’ah , Muhammad Hasan Ali dalam kitab Kasyful Ghitha ditanya tentang perbuatan sadis kaumnya yang melukai diri melewati batas tersebut , merobek – robek pakaian dan meratap – ratap ala ratapan jahiliyah. Dia menjawab dengan mengatakan , “ Itu semua merupakan syiar ajaran Allah SWT sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya ,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah perintah Allah , dan barang siapa yang mengagungkan syiar – syiar Allah , maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati.( QS. Al Hajj : 32 ). [3]

Begitulah kedustaan mereka.Semua kaum muslimin mengetahui bahwa ayat di atas berbicara tentang ibadah Qurban dan syiar – syiar Allah SWT dalam ibadah haji dan umrah.Sama sekali tidak berbicara tentang perbuatan sadis menyakiti diri dan meratap – ratap.Mana ada syiar Allah yang berupa menyiksa diri dan meratap ala jahiliyah.Akan tetapi tokoh – tokoh Syi’ah tak malu – malu mengatakannya.

  1. Aqidah Syiah tentang Ahlus Sunnah

Syi’ah adalah agama yang dibangun atas dasar benci , dengki dan dendam kesumat dari  pemuka Majusi dan bangsawan Persia memanfaatkan konsep seorang Yahudi Abdullah bin Saba’ yang berpura – pura masuk Islam yang mengkultuskan Ali bin Abi Thalib RA. [4] Mereka menyimpan dendam kepada Islam ( Arab ) karena negeri mereka dihancurkan oleh kaum Muslimin di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash RA pada masa Khalifah Umar bin Khaththab RA sebagai balasan yang setimpal terhadap Kisra yang dahulu merobek – robek surat Rasulullah SAW. Berpijak pada dendam lama itulah maka Syi’ah menghalalkan darah dan harta Ahlus Sunnah.Inilah yang sangat berbahaya bagi kaum Muslimin.

Ash Shaduq meriwayatkan sebuah riwayat dari Daud bin Farqad ,

عن داوود بن فرقد، أنه قال: «قلت لأبي عبد الله عليه السلام: ما تقول في قتل الناصب؟ قال: حلال الدم، ولكن اتقِ؛ فإن قدرت أن تقلب عليه حائطاً أو تغرقه في ماء لكيلا يُشهد عليك فافعل. قلت: فما ترى في ماله؟ قال: خذه ما قدرت عليه». وهذا الأثر أورده الصدوق في (علل الشرائع ص 601)، وأورده الحر العاملي في (وسائل الشيعة ـ 18/463) والجزائري في (الأنوار النعمانية ـ 2/308).

Dari Daud bin Farqad sesungguhnya di berkata : Aku bertanya kepada Abu Abdillah AS ( Imam Keenam Syi’ah , Ja’far bin Muhammad “Al-Shadiq”wafat  148 H/765 M) : Apa pendapat Anda tentang membunuh Nashib ( Ahlus Sunnah ) ? Beliau menjawab : Halal darah mereka. Tapi berhati – hatilah.Jika kamu mampu untuk merobohkan tembok agar menimpa Ahlus Sunnah atau menenggelamkannya ke dalam laut agar tak ada orang yang bersaksi atas kamu maka lakukanlah. Aku bertanya lagi : Bagaimana pendapatmu tentang harta Ahlus Sunnah ? Dia menjawab : Ambilah hartanya selama kamu mampu melakukannya.

Ini adalah atsar dari ash Shaduq dalam kitab Ilal asy Syaraai’ hal 601 , disebutkan oleh al Hurr al Amiliy dalam Wasail Syi’ah 18 / 463 , dan al Jazairi dalam kitab al Anwar an Nu’maniyah 20 / 308. [5]

ويقول (الخميني) في (تحرير الوسيلة ـ 1/352): «الأقوى إلحاق الناصب بأهل الحرب في إباحة ما اغتنم منهم، وتعلق الخمس به، بل الظاهر جواز أخذ ماله أينما وجد، وبأي نحو كان، وادفع إلينا خمسه».

Al Khumaini berkata : Pendapat yang paling kuat adalah memasukkan Ahlus Sunnah ke dalam Kafir Harbi tentang bolehnya mengambil ghanimah dari mereka dan mengambil Khumus dari harta tersebut. Bahkan pendapat yang paling benar adalah boleh mengambil harta mereka di manapun dan kapanpun ditemukan dengan cara apapun dan berikanlah Khumus mereka pada kami. [6]

Tidak hanya hal itu saja , bahkan mereka berpendapat bahwa kekufuran Ahlus Sunnah lebih besar dari pada orang – orang Yahudi dan Nashrani , karena mereka kafir asli. Sedangkan Ahlus Sunnah adalah murtad. Kekufuran dari kemurtadan lebih besar dibanding kekufuran asli sesuai ijma’. Karena itu ora ng – orang Syi’ah membantu kaum kafir dalam peperangan melawan kaum Muslimin sebagaimana terbukti dalam sejarah Islam. [7]

Dikatakan dalam Wasail asy Syi’ah bahwa al Fudzail bin Yasar bertanya kepada Abu Ja’far ( Muhammad bin Ali “Al-Baqir” wafat 115 H/733 M Imam Kelima Syi’ah ) : “ Bolehkah aku kawinkan wanita Syi’ah dengan Nashib ( Ahlus Sunnah ) ? “ Beliau menjawab : Tidak boleh karena laki – laki Ahlus Sunnah adalah kafir.” [8]

Orang – orang Syi’ah memang selalu menyebut Ahlus Sunnah dengan istilah Nashib sebagaimana tertulis dalam kitab tokoh – tokoh mereka. Sebenarnya istilah Nashib adalah laqab untuk segolongan orang – orang yang membenci Ali bin Abi Thalib RA. Tetapi kaum Syi’ah menggunakan laqab tersebut untuk kaum Ahlus Sunnah karena lebih mengutamakan keimaman Abu Bakar ash Shiddiq RA , Umar bin Khaththab RA dan Utsman bin Affan RA atas Ali bin Abi Thalib RA.

Mereka menyimpulkan siapa saja yang mengutamakan ketiga sahabat pilihan tersebut di atas Ali berarti membencinya. Hal seperti ini adalah merupakan logika yang sangat dipaksakan. Sebenarnya jelas sekali bahwa keutamaan ketiganya di atas Ali bin Abi Thalib RA ini sudah ada semenjak Rasulullah SAW , sebagai salah satunya adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA ,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رضى الله عنهم

Dari Ibnu Umar RA dia berkata : Dahulu kami biasa memilih di antara manusia pada zaman Rasulullah SAW , maka kami memilih Abu Bakar RA kemudian Umar bin Khaththab RA kemudian Utsman bin Affan RA ( HR. Bukhari ).

Dalam riwayat ath Thabrani ada tambahan ,

وَيَسْمَعُ ذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَلا يُنْكِرُهُ

Dan Nabi SAW mendengar hal itu tetapi tidak mengingkarinya.( HR. Thabrani dalam Mu’jam al Kabir )

Hadits di atas diriwayatkan dari banyak jalan secara mutawatir maknawi dan salah satunya diriwayatkan melalui sahabat Ali bin Abi Thalib RA sendiri.

……… bersambung …………………

[1]Syaikh Abdullah bin Muhammad , Min Aqaidisy Syi’ah , hal 56 – 57

[2]Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz , Fatawaa al Mar’ah , hal 40 – 41

[3]Muhammad Hasan Ali , Kasyful Ghitha’

[4]Syaikh Abdullah bin Muhammad , Min Aqaidisy Syi’ah , hal 4

[5] Ali bin Nayif asy Syahud , Ra’yu asy Syaikhul Islam bi ar Rafidhah

[6] Ibid

[7] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah , Majmu’ al Fataawaa 35 / 1510

[8] Al Hurr al ‘Amiliy , Wasail asy Syi’ah , 7 / 431

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *